Sabtu, 14 Desember 2013

INISIASI 1 MRP


PENGANTAR MANAJEMEN RANTAI PASOKAN Saudara mahasiswa, mata kuliah Manajemen Rantai Pasokan merupakan mata kuliah baru di Program Studi Manajemen. Mata kuliah ini masuk dalam rumpun mata kuliah Manajemen Operasi. Manajemen rantai pasokan merupakan mata kuliah yang berisikan teori dan praktik dalam manajemen rantai pasokan, termasuk contoh-contoh soal yang dapat Anda pelajari dari modul. Pada inisiasi I ini, kita akan mempelajari bersama mengenai dasar-dasar manajemen rantai pasokan. Saudara mahasiswa, apakah Anda pernah mendengar istilah rantai pasokan...? Kalau kita pilah-pilah frasa tersebut per kata, maka kita akan memperoleh dua kata yaitu rantai dan pasokan. Rantai menggambarkan aktivitas yang tidak terputus antara satu aktivitas dengan aktivitas lainnya dalam suatu sistem dan pasokan menggambarkan adanya aliran barang/material dalam rantai itu. Pertanyaan selanjutnya, apa saja yang dipasok..? Nah, untuk mempelajari lebih lanjut marilah kita pahami pengertiannya lebih jauh. Coba Anda bayangkan , aktivitas apa saja yang terjadi dalam suatu pabrik....? Anda akan memabyangkan penggunaan mesin-mesin dan peralatan yang bersuara gaduh, kemudian ada suatu produk yang berjalan diantara mesin-mesin itu, kemudian produk tersebut dikemas dan disimpan. Tapi, sebenarnya hal itu merupakan bagian dari suatu rangkaian aktivitas secara menyeluruh. Darimana bahan baku diperoleh..? bagaimana memperolehnya..? bagaimana mengolahnya...? bagaimana mendistribusikannya...? Nah, gambaran sederhana proses konversi dalam industri manufaktur adalah suatu pabrik memperoleh bahan baku, bahan pembantu, dan peralatan dari para pemasoknya. Kemudian bahan-bahan tersebut diolah dalam pabrik melalui berbagai macam proses produksi agar menjadi suatu barang, baik barang jadi maupun barang setengah jadi, yang dapat dijual kepada pembeli selanjutnya. Nah, kalau kita gambarkan adalah sebagai berikut. Nah, dari gambaran tersebut, Anda sudah dapat membayangkan bukan, mengenai proses pengubahan barang mentah menjadi barang jadi...? Sekarang, dimanakah manajemen rantai pasokan berada...? Mari kita pelajari terlebih dahulu mengenai pengertian manajamen rantai pasokan. Dari pengertian tersebut, dapat kita tarik kesimpulan bahwa manajemen rantai pasokan merupakan rangkaian aktivitas yang bertanggung jawab untuk menjamin ketersediaan pasokan mulai dari bahan-bahan masuk produksi sampai menjadi barang jadi dan akhirnya dikirim kepada pelanggan. Manajemen rantai pasokan menjadi sangat penting ketika keberlangsungan proses produksi dan operasi harus terjaga terus menerus sepanjang waktu pengerjaan. Bayangkan bagaimana jika di tengah-tengah produksi harus terhenti karena kehabisan bahan baku..? berapa banyak waktu yang terbuang atau berapa banyak kerugian yang ditimbulkan karena produksi macet. Disinilah pentingnya manajemen rantai pasok untuk menjaga semua aktivitas dalam sistem tetap berjalan seperti yang diharapkan. PERSEDIAAN DALAM RANTAI PASOKAN Saudara mahasiswa, kunci keberhasilan dalam rantai pasokan adalah tersedianya bahan dan berjalannya aliran bahan. Dalam manajemen rantai pasokan, terdapat persediaan yang perlu dikelola dengan baik, yaitu: 1. Bahan baku (raw materials): mata rantai bahan baku adalah ada di pabrik pembuat bahan baku ini, dan mata rantai terakhir ada di pabrik pembuat produk akhir (bukan di konsumen akhir). Bahan baku ini di pabrik pembuat produk akhir digabung dengan bahan penolong, dan dengan teknologi tertentu diolah menjadi bahan setengah jadi dan bahan jadi. 2. Barang setengah jadi (work in process product): mata rantai barang setengah jadi bermula di pabrik pembuat bahan jadi. Bahan setengah jadi adalah hasil dari proses bahan baku. Bahan setengah jadi dapat langsung diproses di pabrik yang sama menjadi bahan jadi, tetapi dapat juga dijual kepada konsumen sebagai komoditas. Jadi, akhir dari mata rantai akan sangat tergantung dari hal di atas, bisa pendek dan bisa panjang. Akhir mata rantai ada di konsumen akhir pengguna atau pembeli hasil produksi tersebut. Persediaan jenis ini adalah persediaan yag digunakan untuk menunjang pabrik pembuat barang jadi tersebut, yaitu untuk pemeliharaan, perbaikan, dan operasi peralatan pabriknya. Mata rantainya bermula dari pabrik pembuat material MRO tadi dan berakhir di perusahaan pembuat barang jadi tersebut, sebagai the final user (manufacturer). 3. Barang komoditas (commodity): persediaan jenis ini adalah barang yang dibeli oleh perusahaan tertentu sudah dalam bentuk barang jadi dan diperdagangkan, dalam arti dijual kembali kepada konsumen. Di perusahaan tersebut, barang ini dapat diproses lagi, misalnya diganti bungkusnya atau diperkecil kemasannya, tetapi dapat juga dijual lagi langsung dalam bentuk asli seperti saat dibeli. Mata rantai persediaan jenis ini bermula dari pabrik pembuat komoditas tersebut dan berakhir pada konsumen akhir pengguna barang tersebut. Barang komoditas kadang-kadang juga disebut resales commodities, karena memang barang tersebut dibeli untuk dijual lagi dengan keuntungan tertentu. 4. Barang proyek: Persediaan jenis ini adalah material dan suku cadang yang digunakan untuk membangun proyek tertentu, misalnya membuat pabrik baru. Mata rantai panjangnya hampir sama dengan MRO materials, jadi bermula dari pabrik pembuat barang-barang tersebut dan berakhir di perusahaan pembuat barang jadi yang dimaksud. PROSES BISNIS RANTAI PASOKAN Pada manajemen rantai pasokan, aktivitas-aktivitas dibagi-bagi menjadi beberapa proses bisnis, antara lain: 1. Customer Relationship Management (CRM): langkah pertama manajemen ratai pasok adalah mengidentifikasi pelanggan utama atau pelanggan yang kritis bagi perusahaan. Aktivitas ini melibatkan tim pelayanan pelanggan (customer service) yang membuat dan melaksanakan program-program bersama, persetujuan produk dan jasa, serta menetapkan tingkat kinerja tertentu untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. 2. Customer Service Management (CSM): CSM merupakan sumber tunggal informasi pelanggan yang mengurus persetujuan produk dan jasa. Customer Service memberitahukan pelanggan informasi mengenai tanggal pengiriman dan ketersediaan produk melalui hubungannya dengan bagian produksi dan distribusi. Pelayanan setelah penjualan juga perlu, intinya harus secara efisien membantu pelanggan mengenai aplikasi dan rekomendasi produk. 3. Demand Management: proses ini harus menyeimbangkan kebutuhan pelanggan dengan kemampuan pasokan perusahaan, menentukan apa yang akan dibeli pelanggan dan kapan. Sistem manajemen permintaan yang baik menggunakan data point-of-sale dan data pelanggan “inti” untuk mengurangi ketidakpastian dan aliran yang efisien melalui rantai pasok. 4. Customer Demand Fulfillment: proses penyelesaian pesanan ini secara efektif memerlukan integrasi rencana kerja antara produk, distribusi dan transportasi. Hubungan dengan rekan kerja yakni anggota primer rantai pasok dan anggota sekunder diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan mengurangi total biaya kirim ke pelanggan. 5. Manufacturing Flow Management: biasanya perusahaan memproduksi barang lalu dibawa ke bagian distribusi berdasarkan ramalan historik. Produk dihasilkan untuk memenuhi jadwal produksi. Seringkali produk yang salah mengakibatkan persediaan yang tidak perlu, meningkatkan biaya penanganan/penyimpanan dan pengiriman produk terhambat. Dengan manajemen rantai pasok, produk dihasilkan berdasarkan kebutuhan pelanggan. Jadi barang produksi harus fleksibel dengan perubahan pasar. Untuk itu diperlukan kemampuan berubah secara cepat untuk menyesuaikan dengan variasi kebutuhan massal. Untuk mencapai proses produksi tepat waktu dengan ukuran lot minimum, manajer harus berfokus pada biaya-biaya setup/perubahan yang rendah termasuk merekayasa ulang proses, perubahan dalam desain produk dan perhatian pada rangkian produk. 6. Procurement: membina hubungan jangka panjang dengan sekelompok pemasok dalam arti hubungan win-win relationship akan mengubah sistem beli tradisional. Hubungan ini adalah melibatkan pemasok sejak tahap desain produk, sehingga dapat mengurangi siklus pengembangan produk serta meningkatkan koordinasi antara engineering, purchasing dan supplier pada tahap akhir desain. 7. Pengembangan Produk dan Komersialisasi: untuk mengurangi waktu masuknya produk ke pangsa pasar, pelanggan dan pemasok seharusnya dimasukkan ke dalam proses pengembangan produk. Bila siklus produk termasuk singkat maka produk yang tepat harus dikembangkan dan dilauching pada waktu singkat dan tepat agar perusahaan kuat bersaing. 8. Retur: proses manajemen retur yang efektif memungkinkan kita mengidentifikasi produktivitas kesempatan memperbaiki dan menerobos proyek-proyek agar dapat bersaing. Retur di Xerox berupa peralatan, komponen, supplier dan competitive trade-ins. Ketersediaan retur (return to available) adalah pengukuran waktu siklus yang di perlukan untuk mencapai pengembalian asset (return on asset) pada status yang digunakan. Pengukuran ini penting bagi pelanggan yang memerlukan produk pengganti dalam waktu singkat bila terjadi produk gagal. Selain itu, perlengkapan yang digunakan untuk scrap dan waste dari bagian produksi diukur pada waktu organisasi menerima uang cash. Demikianlan Saudara mahasiswa, materi inisiasi kita kali ini, sampai berjumpa pada materi berikutnya. Sampai Jumpa dan Selamat Belajar **********

Inisiasi 8 Ekonomi Manajerial


Materi Inisiasi 8 Andriyansah, 2013 Fakultas Ekonomi Universitas Terbuka Sumber: BMP Ekonomi Manajerial 4312 Proyek investasi biasanya memerlukan pembiayaan yang relatif besar. Oleh karena itu, perusahaan meminjam dana dengan menerbitkan bond dan saham. Ongkos meminjam dana dengan menerbitkan bond dan saham ini disebut ongkos modal (cost of capital). Proyek yang memberikan imbal hasil (return) lebih besar dari ongkos modalnya, bisa direalisasikan. Untuk menghitung nilai sekarang dari sebuah keuntungan diperlukan discount rate. Discount rate ini membawa sebuah nilai pada periode ke depan ke periode sekarang. Nilai sekarang dari 110 dengan discount rate 10% adalah 100. Artinya, nilai uang sebesar 110 pada periode satu sama dengan 100 pada periode sekarang (nol). Dana sebesar 100 yang diinvestasikan pada instrumen investasi dengan imbal hasil 10% akan menjadi sebesar 110 pada periode satu. Hubungan nilai sekarang dengan nilai periode satu bisa ditampilkan sebagai berikut. di mana : nilai pada periode sekarang : nilai pada periode satu : imbal hasil (return) Apabila nilai 100 pada bulan januari tahun 2010 (V0) dihitung nilainya pada tahun 2011 (V1) dengan r sebesar 0,1 maka maka nilai pada tahun 2011 adalah: Formula nilai sekarang dari nilai periode satu adalah: : discount rate : discount factor Nilai sekarang dari 110 adalah 100, Nilai awal sebesar diinvestasikan pada instrumen investasi dengan imbal hasil . Pada periode satu, nilai investasi tersebut menjadi . Pada periode satu, diinvestasikan dengan imbal hasil yang sama. Pada periode kedua nilai investasi menjadi . Nilai ini diinevastasikan dengan imbal hasil yang sama. Pada periode ketiga nilai investasi menjadi . Formula nilai investasi periode dua dan tiga adalah: dan . Secara umum, nilai pada periode ke n adalah: Nilai sekarang dari nilai pada periode ke n adalah: : discount factor untuk Perhatikan bahwa dalam kasus ini discount rate sama dengan imbal hasil (return) instrumen investasi. Nilai sekarang dana sebesar 100 pada periode sepuluh adalah 38,55. Artinya, dana sebesar 38,55 apabila diinvestasikan pada instrumen investasi dengan imbal hasil 10% per periode, hasil investasi pada periode ke 10 adalah 100. Bila dana sebesar 100 diinvestasikan pada instrumen investasi dengan imbal hasil 10%, pada periode ke 10 dananya menjadi 259,37. bond adalah instrumen utang. Bagi investor, bond adalah instrumen investasi. Investor membeli bond yang diterbitkan perusahaan. Perusahaan memberikan kupon kepada pembeli bond secara periodik hingga waktu jatuh tempo dan prinsipal (face value)-nya pada akhir periode. Harga bond pada saat diterbitkan sama dengan nilai prinsipalnya. Bond yang baru diterbitkan disebut bond on the run. Nilai prinsipal adalah nilai utang perusahaan. Nilai bond akan sama dengan nilai prinsipalnya apabila suku bunga kupon bond (coupon rate) sama dengan discount rate atau imbal hasilnya (yield-nya). . Risiko gagal bayar adalah kerugian karena perusahaan gagal memenuhi kewajibannya sesuai dengan kontrak. Investor yang membeli bond meminta kompensasi karena menanggung risiko gagal bayar tersebut. Yield sebuah bond sama dengan yield bond tanpa risiko padanannya ditambah dengan premi risiko gagal bayar. : imbal hasil (yield) bond tanpa risiko padanannya (dengan periode jatuh tempo sama) : premi risiko kredit (credit spread) : premi risiko yang mencerminkan risiko bond lainnya seperti risiko likuiditas dan premi risiko ini juga mencerminkan risk aversion dari investor Standard and Poor (S & P) dan Moody memberikan peringkat terhadap bond menurut risiko gagal bayar (default) perusahaan

Materi Inisiasi 7 Ekonomi Manajerial


Materi Inisiasi 7 Andriyansah, 2013 Fakultas Ekonomi Universitas Terbuka Sumber: BMP Ekonomi Manajerial 4312 RISK TOLERANCE Jika B hanya berani mengambil permainan lempar koin (-100, +100). A berani mengambil permainan lempar koin (-1.000, +1.000). A lebih berani menerima kekalahan yang lebih besar dibanding B. Dikatakan bahwa A mempunyai toleransi terhadap risiko (risk tolerance) atau kesukaan terhadap risiko (preference towards risk) yang lebih besar. 1. Fungsi Utility Fungsi utility (utility/kepuasan) menggambarkan hubungan antara kekayaan seseorang dengan tingkat utility-nya. Semakin besar kekayaan seseorang, semakin besar utility-nya. Namun, kenaikan utility seseorang terhadap peningkatan kekayaan adalah menurun. Jadi ada law of diminishing utility dalam kepemilikan kekayaan, lihat Gambar 8.2. Gambar 8.2. Fungsi Utility Gambar 8.2 di atas menunjukkan bahwa tambahan 100 pertama, kedua dan ketiga masing-masing memberikan tambahan utility 7, 2, dan 1. Fungsi utility ini bisa menunjukkan tingkat toleransi risiko seseorang. Orang pemberani seperti pengusaha besar bisa menerima risiko yang relatif besar. Dia bisa menerima kerugian Rp 1 miliar dalam sehari tanpa penurunan utility yang amat besar, misalnya tanpa mengalami stress yang berarti. Pedagang kecil yang menderita kerugian Rp 1 juta sehari bisa pusing. 1. Expected Utility Theory Teori expected utility mengatakan bahwa dalam mengambil keputusan berisiko, orang mengevaluasi nilai harapan utility (expected utility)-nya, bukan mengevaluasi nilai harapan hadiah uangnya. Kata expected berarti rata-rata (nilai harapan). Misalkan, untuk kasus di atas. Utility awal A adalah 10. Setelah mengambil permainan lempar koin, utility A bisa turun menjadi 8 dengan peluang 0,5 atau utility A bisa naik menjadi 11 dengan peluang 0,5. Expected utility A setelah mengambil permainan lempar koin adalah: Apabila mengambil permainan lempar koin, nilai harapan utility A turun menjadi 9,5. Oleh karena itu, A memilih tidak mengambil permainan lempar koin. Perhatikan bahwa apabila A tidak mengambil permainan lempar koin adalah 10, pasti. Peluang utility A sama dengan 10 adalah satu. Expected value dari 10 adalah 10. Jadi, expected utility A apabila tidak mengambil permainan adalah 10. Utility A tidak berubah. SPEKULASI NILAI TUKAR Investor (spekulan) A memegang $100. Nilai tukar sekarang adalah 10.000 rupiah/$. Dalam hal ini, A mengharapkan (menebak) nilai tukar rupiah/$ akan naik, misalnya menjadi 12.000 rupiah/$. A akan rugi apabila nilai tukar turun setahun kemudian. A yakin bahwa nilai tukar akan naik. Oleh karena itu, expected value A terhadap spekulasi ini positif. Perhatikan bahwa dalam spekulasi nilai tukar tidak ada bandarnya. Bahkan permainan ini, bagi A mempunyai expected value yang positif. Certainty Equivalent Certainty equivalent sebuah pilihan berisiko adalah nilai pasti yang memberikan utility yang sama dengan suatu pilihan berisiko tersebut. Misalnya, A, seorang pegawai baru, mendapatkan sebuah tawaran gaji berisiko. A bisa mendapat gaji 200 dengan peluang 0,5. A juga bisa mendapat gaji 0 dengan peluang 0,5. Berapa gaji tetap yang ekuivalen (certainty equivalent) dengan gaji berisiko tersebut. Gambar 8.4 menggambarkan gaji berisiko dan certainty equivalent-nya. Gambar 8.4. Certainty equivalent dari gaji berisiko Gaji berisiko tersebut memberikan expected utility sebesar 5,5 . Gaji pasti sebesar 40 adalah 5,5. Nilai ini sama dengan expected value 5,5. Jadi, certainty equivalent dari gaji berisiko tersebut adalah 40. Perhatikan bahwa untuk pilihan berisiko tersebut, apabila B mempunyai toleransi risiko yang lebih rendah, certainty equivalent B untuk gaji berisiko tersebut lebih kecil dari 40. Artinya, B bersedia menerima gaji tetap (pasti) yang lebih kecil dari 40 untuk mengganti gaji berisiko 0 atau 200 dengan peluang masing-masing 0,5 dan 0,5. Sebaliknya, bagi C yang mempunyai toleransi penerimaan risiko besar akan mempunyai certainty equivalent yang lebih besar dari 40. Ingat bahwa A, B, dan C mempunyai bentuk kurva utility yang berbeda.

Inisiasi 6 Ekonomi Manajerial


Materi Inisiasi 6 Andriyansah, 2013 Fakultas Ekonomi Universitas Terbuka Sumber: BMP Ekonomi Manajerial 4312 Produsen memaksimumkan keuntungan mereka, konsumen memaksimumkan utility mereka. Letakkan mereka dalam struktur pasar bersaing sempurna. Hasilnya, kesejahteraan mereka bisa mencapai pada tingkat tertinggi. Artinya, tidak ada alokasi sumber daya lain yang bisa mengunggulinya. Ini adalah esensi hukum kesejahteraan ekonomi yang pertama. Skenario ini adalah sistem perekonomian yang paling efisien. Artinya, dengan input tertentu perekonomian akan menghasilkan output yang maksimal. Dalam kondisi seperti ini tentu saja pemerintah tidak mempunyai pembenaran untuk melakukan intervensi. Pemerintah bisa melakukan intervensi apabila ada inefisiensi. Inefisiensi akan muncul apabila terjadi kegagalan pasar (market failures). Pasar tidak gagal apabila semua harga yang terbentuk bisa mengalokasikan sumber daya paling efisien. Kondisi ini terjadi apabila semua pasar, baik produk maupun faktor produksi, mempunyai struktur pasar bersaing sempurna REGULASI KARENA ALASAN POLITIK Ekonom selalu mengasumsikan pelaku ekonomi sebagai profit (utility) maximizer karena pelaku ekonomi memang berperilaku demikian. Konsumen, produsen dan regulator juga manusia, semuanya profit maximizer yang rasional. Teori Menangkap Regulator Produsen akan melobi untuk mempengaruhi regulator supaya bersedia menetapkan tarif. Oleh karena tarif menguntungkan produsen, produsen bisa “menangkap” regulator untuk mendapatkan proteksi berupa tarif. Argumen ini disebut capture theory. Capture theory mengatakan bahwa produsen (konsumen) bisa menangkap regulator untuk membuat regulasi yang sesuai dengan keinginan produsen (konsumen). Capture theory memberikan prediksi bahwa regulasi yang ada sesuai dengan keinginan pihak yang mempunyai pengaruh besar pada regulator. Siapa yang bisa menangkap regulator? Tentu saja pihak yang menangkap regulator adalah pihak (kelompok) yang bisa menaikkan utility regulator. Secara individual biasanya produsen atau konsumen tidak bisa mempengaruhi regulator. Namun, secara bersama (organisasi) mereka mampu mempengaruhi regulator. Jadi, mereka yang mampu meng-organisasikan kelompoknya, mereka yang mampu mempengaruhi regulator Negara yang sedang berkembang biasanya mengandalkan perolehan ekspornya dari sektor kebutuhan primer, yaitu bahan-bahan makanan dan bahan-bahan baku. Permintaan barang-barang ini mempunyai elastisitas pendapatan yang rendah (Engel’s law). Oleh karena itu, suatu negara tidak bisa mengandalkan produk-produk tersebut untuk menopang strategi pertumbuhannya. Dikatakan bahwa produk-produk pertanian tradisional tidak bisa menjadi engine of growth suatu negara. Upaya mengembangkan produk-produk pertanian akan membuat perekonomian “terperangkap” dalam pola proses produksi barang-barang primer/pertanian. Hal ini tentu saja akan mengurangi alokasi resources perekonomian ke sektor lainnya, misalnya sektor manufaktur yang mempunyai elastisitas pendapatannya tinggi. Perdagangan internasional akan mampu bertindak sebagai lokomotif pembangunan jika berbasis pada sektor yang mempunyai elastisitas pendapatan tinggi seperti manufaktur. 1. Argumen Upah di Negara Partner yang Murah Biasanya, untuk industri tertentu, negara yang sudah berkembang, misalnya A.S. khawatir terhadap masuknya barang-barang yang diproduksi dengan tenaga kerja dari negara lain yang murah. Argumen ini akan menjadi lebih ekstrim dengan tambahan argumen bahwa tingkat upah tinggi dari negara yang sudah maju akan konvergen dengan tingkat upah yang lebih rendah dari negara yang sedang berkembang. Ross Perot berkomentar tentang NAFTA: “ ...Mexican wages will come up to $ 7.5 an hour and our wages will come down to $ 7.5 an hour.” Oleh karena itu, kelompok yang merasa berpotensi dirugikan akan berusaha untuk mendapatkan proteksi berdasarkan argumen tersebut. Ada beberapa kesalahan dalam argumen tersebut. Pertama, tenaga kerja AS mempunyai tingkat gaji yang lebih tinggi karena produktivitasnya tinggi. Kedua, yang harus ditekankan adalah pola perdagangan disebabkan oleh keunggulan komparatif, bukan karena tingkat gaji ataupun keunggulan absolut, dan tingkat upah ditentukan oleh efisiensi atau produktivitas pekerja, bukan karena hambatan perdagangan. 2. Retaliasi Hambatan perdagangan, misalnya tarif, bisa muncul karena alasan retaliasi (balasan). Negara A mengenakan tarif terhadap produk tertentu dari negara B karena B mengenakan tarif terhadap produk dari A. Tarif war ini selain bisa memunculkan tarif, juga memberikan insentif bagi suatu negara untuk tidak memulai mengenakan tarif terhadap produk dari negara lain. Oleh karena itu, rule of the game dalam perdagangan internasional yang berpola tit-for-tat ini justru mampu mengeliminasi tarif. Dalam picking winner, pemerintah menentukan produk unggulan (the winner) dalam perekonomian, misalnya tekstil. Namun, yang menentukan the winner adalah pasar (harga), bukan pemerintah. Harga (pasar) akan mengarahkan sumber daya secara benar. Ingat bahwa harga mempunyai kemampuan untuk mengalokasikan sumber daya yang paling efisien. 3. Kebijakan yang Tidak Netral (Bias) Tarif dan NTBs adalah instrumen pemerintah untuk melakukan intervensi sebuah perekonomian. Dalam realita, tarif dan NTBs muncul karena alasan-alasan infant industry argument, rent seeking, kompetisi dengan tenaga kerja asing, dan retaliasi. Alasan-alasan tersebut tidak sesuai dengan argumen gains from trade seperti yang ditunjukkan oleh comparative advantage (keunggulan komparatif). Secara umum, tarif dan NTBs bias ke sektor atau produk tertentu. Akibatnya, sektor-sektor pilihan akan menyedot resources perekonomian yang terbatas. Oleh karena itu, tarif dan nontarif akan membuat pertumbuhan perekonomian menjadi timpang. Biasanya, untuk perekonomian sebuah negara agraris yang sedang berkembang akan cenderung mengandalkan sektor non-agraria sebagai lokomotif pertumbuhan karena permintaan akan komoditi agraria tidak elastis (Engel’s law). Hal ini akan memunculkan dilema, di negara agraris tersebut sektor agraria menjadi terbelakang. (Negara agraris adalah negara yang sebagian besar penduduknya bekerja di sektor agraria). Tarif untuk suatu barang biasanya mempunyai dampak negatif terhadap barang lainnya. Tarif untuk memberikan proteksi industri yang sedang turun kinerjanya karena adanya inefisiensi dari kompetisi internasional akan menolong mengurangi pengangguran di industri tersebut. Akan tetapi, di lain pihak, konsumen harus menanggung beban harga yang lebih tinggi. 4. Laissez Faire dan Keunggulan Komparatif Pada prinsipnya, intervensi perdagangan internasional tidak membuat perekonomian menjadi lebih baik. Barangkali hampir semua ekonom tidak mendukung adanya hambatan perdagangan internasional baik tarif maupun NTBs. Oleh karena itu, perekonomian dunia diskenariokan pada tahun 2020 menjadi bebas, bebas dari hambatan perdagangan internasional. (Angka 2020 diambil dari istilah kedokteran yang menggambarkan penglihatan yang jelas.) Banyak argumen bahwa negara yang sedang berkembang akan “tergilas” oleh perdagangan internasional. Argumen ini adalah argumen short sighted (jangka pendek). Apabila tarif dihapus, sebagian produsen domestik akan gulung tikar. Mereka yang gulung tikar adalah produsen yang tidak efisien dibanding produsen sejenis yang ada di dunia. Setelah gulung tikar, mereka akan berupaya pindah ke sektor lain yang lebih efisien dan sesuai dengan keunggulan komparatif mereka. Mereka akan beroperasi tanpa harus diintervensi atau dilindungi. Jadi, harga internasional menunjukkan kepada sebagian produsen yang salah memilih sektor dan mengarahkan mereka untuk memilih ke sektor yang lebih cocok. Argumen yang harus diingat bahwa semua produsen (negara) mempunyai keunggulan komparatif. Perhatikan bahwa seorang konglomerat pasti bisa mencuci bajunya sendiri dengan bersih dan rapi, lebih bersih dari hasil cucian pembantunya. Namun, konglomerat tersebut tetap menyewa pembantu untuk mencuci pakaiannya. Tenaga kerja Amerika Serikat bisa menjahit lebih bagus dibanding tenaga kerja Cina. Namun, perusahaan lebih menguntungkan merelokasi aktivitas penjahitan ke Cina. Cina mempunyai keunggulan komparatif dalam menjahit terhadap Amerika Serikat.

Inisiasi 5 Ekonomi Manajerial


Materi Inisiasi 5 Andriyansah, 2013 Fakultas Ekonomi Universitas Terbuka Sumber: BMP Ekonomi Manajerial 4312 Pricing tidak relevan untuk perusahaan dalam struktur pasar bersaing sempurna. Perusahaan dalam struktur pasar bersaing sempurna bertindak sebagai price taker. Pricing menjadi relevan bagi perusahaan dalam struktur pasar bersaing tidak sempurna. Perusahaan dalam pasar bersaing tidak sempurna menghadapi kurva permintaan yang tidak datar, tetapi miring negatif. Secara umum, tampilan kurva permintaan pasar bersaing tidak sempurna adalah: misalnya: Perusahaan yang mengoptimalkan keuntungannya akan memproduksi hingga produk yang terakhir memenuhi persyaratan ongkos marjinal sama dengan pendapatan marjinal. Apabila ongkos marjinal kurang dari pendapatan marjinal, perusahaan bisa meningkatkan keuntungan dengan menambah produk. Sebaliknya, apabila ongkos marjinal sudah melebihi pendapatan marjinal, perusahaan bisa meningkatkan keuntungan dengan mengurangi produk. Pricing yang optimal harus memenuhi syarat: di mana e : elastisitas harga produk Nilai elastisitas adalah negatif. Jadi, harga yang optimal adalah: disebut mark-up Pricing satu harga untuk sejumlah produk tertentu disebut block pricing. Gambar 6.10. Block Pricing Harga blok (block pricing) membuat konsumen membuat keputusan membeli satu blok produk atau tidak sama sekali. Asalkan konsumen menilai bahwa satu blok barang (8) memberikan surplus konsumen sebesar 48 dan harga satu blok produk tidak lebih dari 48, konsumen tersebut akan membeli paket tersebut. Block Pricing Produk tertentu mempunyai MC yang amat rendah, seperti permen. MC permen bisa dianggap kecil sekali (0). Oleh karena itu, produsen permen biasanya menjual dengan block pricing. Peak-Load Pricing Beberapa produk mempunyai permintaan yang bervariasi menurut waktu. Jasa kereta api pada pagi dan sore hari meningkat besar dibanding waktu-waktu lainnya. Pada saat permintaan dalam kondisi peak, kapasitas jasa kereta api diasumsikan tidak bisa ditingkatkan. Pada saat permintaan tinggi, perusahaan jasa kereta api bisa menaikkan harga tiketnya. Sebaliknya, pada saat permintaan rendah, perusahaan jasa kereta api bisa menurunkan harga tiketnya. Pricing ini disebut peak load pricing.

Inisiasi 3 Ekonomi Manajerial


Materi Inisiasi 4 Andriyansah, 2013 Fakultas Ekonomi Universitas Terbuka Sumber: BMP 4312 struktur biaya sebuah perusahaan sumbu tegak menunjukkan biaya dan sumbu datar menunjukkan jumlah barang yang diproduksi/dijual. Law of diminishing returns membuat biaya marjinal (MC) naik semakin cepat. MC memotong biaya rata-rata (AC) pada AC minimum. MC memotong biaya rata-rata variabel (AVC) pada AVC minimum. Gambar 5.1. Struktur Biaya struktur biaya sebuah perusahaan sumbu tegak menunjukkan biaya dan sumbu datar menunjukkan jumlah barang yang diproduksi/dijual. Law of diminishing returns membuat biaya marjinal (MC) naik semakin cepat. MC memotong biaya rata-rata (AC) pada AC minimum. MC memotong biaya rata-rata variabel (AVC) pada AVC minimum. Gambar 5.1. Struktur Biaya Produsen mempunyai struktur biaya seperti pada Gambar 5.1 menghadapi kurva permintaan seperti pada Gambar 5.2. Berapa jumlah produksi yang optimal bagi produsen? Jumlah produksi yang optimal artinya jumlah produksi yang memaksimumkan keuntungan atau meminimumkan kerugian. Keuntungan produsen adalah: : keuntungan : pendapatan (revenue) : biaya (costs) q : kuantitas (quantity) Perhatikan bahwa keuntungan, pendapatan dan biaya semuanya fungsi dari output. Kondisi keuntungan optimal adalah turunan pertama keuntungan terhadap output sama dengan nol. Jadi . Secara intuisi, apabila harga pasar relatif tinggi sehingga biaya rata-rata lebih kecil dari harga produknya, produsen menikmati keuntungan positif. Keuntungan ini disebut keuntungan di atas normal (super normal). Apabila harga pasar turun sehingga biaya rata-rata sama dengan harga, keuntungan produsen sama dengan nol (keuntungan normal atau normal profit). Apabila harga pasar turun lagi sehingga biaya rata-rata kurang di bawah harga produk, produsen mengalami kerugian atau keuntungan di bawah nol (sub-normal profit). Tiga kategori keuntungan bisa diilustrasikan dengan grafik. 1. Perusahaan Menikmati Keuntungan di atas Normal Gambar 5.5. Perusahaan Menikmati Keuntungan di Atas Normal Gambar 5.5 menggambarkan produsen mempunyai struktur biaya standar dan menghadapi kurva permintaan pasar horizontal. Produsen yang mengoptimalkan keuntungannya memenuhi kondisi MC = MR. Output optimalnya adalah 100. Dengan output 100, biaya rata-rata produk adalah 8. Tentu saja harganya 10. Produsen menikmati keuntungan sebesar 200. Ini adalah keuntungan di atas normal (super normal profit). Keuntungan di atas normal tentu saja mengundang produsen-produsen lainnya (entries). Persediaan (supply) output di pasar meningkat dan menurunkan harga produk. Produsen baru akan tetap masuk selama masih ada super normal profit. Atau, produsen baru akan tidak mempunyai insentif untuk masuk bila super normal profit sama dengan nol. Keuntungan sama dengan nol ini disebut keuntungan normal (normal profit). Jadi, apabila harga di atas 7 (harga yang membuat keuntungan di atas normal), harga akan turun ke 7. 2. Perusahaan Menikmati Keuntungan Normal Keuntungan normal terjadi bila harga sama dengan biaya produksi rata-rata. Gambar 5.6 menunjukkan keuntungan normal. Produsen memenuhi kondisi optimal MC = MR. Output optimal adalah 90. Harga sama dengan biaya rata-rata, yaitu 7. Keuntungan produsen adalah nol (normal profit). Gambar 5.6. Perusahaan Menikmati Keuntungan Normal Perusahaan Menikmati Keuntungan di Bawah Normal (Subnormal) Misalnya, penurunan permintaan pasar membuat harga turun hingga sama dengan 5. Produsen mengoptimalkan keuntungannya dengan memenuhi MC = MR dan memproduksi sebanyak 80. Pada saat output sama dengan 80, biaya rata-ratanya adalah 8. Produsen menderita kerugian 240 (3 80). Kerugian (keuntungan negatif) disebut keuntungan di bawah normal (sub-normal profit).

Inisiasi 4 Ekonomi Manajerial


Materi Inisiasi 4 Andriyansah, 2013 Fakultas Ekonomi Universitas Terbuka Sumber: BMP Ekonomi Manajerial 4312 Regresi linier bertujuan untuk menjelaskan pengaruh sejumlah variabel bebas terhadap variabel tidak bebas. Model regresi yang merupakan fungsi linier sejumlah variabel berguna untuk menjelaskan variasi dependen variabel. Model regresi yang ideal adalah model dengan jumlah variabel sedikit, namun bisa menjelaskan sebagian besar variasi dependen variabel. Jadi, metode dalam mengestimasi model regresi, tujuannya adalah memilih koefisien variabel independen dalam model yang meminimumkan variasi error. Metode ini disebut ordinary least squares (OLS), yaitu metode yang meminimumkan jumlah kuadrat error. Jumlah kuadrat error adalah ukuran variasi error. Error adalah selisih nilai variabel dependen yang sesungguhnya dengan nilai prediksi model regresi. 1. Pembentukan Hipotesis Fokus pengujian adalah hubungan kausalitas. Bentuk hubungan kausalitas adalah sebuah variabel independen mempengaruhi variabel dependen. Bentuk hubungan yang lebih informatif adalah apabila nilai variabel independen berubah satu persen, variabel dependen berubah berapa persen. Apabila variabel independen harga produk tidak mempengaruhi permintaan produk, pengaruh harga terhadap permintaan produk adalah nol. Dalam memilih variabel bebas tentu saja yang diharapkan adalah bahwa variabel bebas mempengaruhi variabel dependen. Hal yang tidak diharapkan adalah variabel independen tidak mempengaruhi variabel dependen. Hipotesis variabel independen tidak mempengaruhi variabel dependen disebut H0 (hipotesis nol). Angka nol merujuk bahwa pengaruh independen terhadap dependen variabel adalah nol (tidak berpengaruh). Sedangkan hipotesis variabel independen mempengaruhi dependen variabel disebut H1 (hipotesis 1 atau hipotesis alternatif). Kata alternatif merujuk pada hipotesis bahwa pengaruh independen variabel berpengaruh pada dependen variabel. Oleh karena itu, bentuk dari hipotesis adalah sebagai berikut: di mana menunjukkan pengaruh variabel sebuah variabel independen terhadap variabel dependen. Dalam pengujian hipotesis tentu saja yang diharapkan adalah menolak H0 atau menerima H1 (baca hipotesis alternatif untuk mengingatkan hipotesis alternatif dari H0). Menolak H0 atau menerima H1 artinya data sesuai dengan hipotesis alternatif yang dibentuk berdasarkan teori. Lebih dari itu, nilai beta yang tidak sama dengan nol mengkuantifikasi pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Apabila nilai variabel ditransformasikan dengan ln, koefisien masing-masing variabel merupakan elastisitas variabel dependen variabel terhadap perubahan masing-masing variabel independen. 2. Pengujian Hipotesis Untuk menentukan penerimaan atau penolakan sebuah H0 memerlukan uji t. Uji t sering disebut sebagai uji sebuah koefisien karena menguji masing-masing koefisien variabel independen dalam model regresi. Dalam uji t, koefisien (misalnya ) diasumsikan menyebar normal dengan rata-rata 0, sesuai dengan H0. Kemudian, nilai estimasi beta tersebut ditransformasi normal baku dan nilainya disebut t hitung. Variabel t hitung ini menyebar secara t. Apabila t hitung berada jauh dari rata-ratanya (0), maka nilai estimasinya tidak sama dengan nol, atau H0 ditolak. Apabila nilai t hitung berada di sekitar nol maka nilai estimasinya sama dengan nol. Oleh karena itu, daerah di sekitar nol pada distribusi t disebut daerah penerimaan H0, sedangkan daerah distribusi t yang jauh dari nol disebut daerah penerimaan H0. Gambar 4.3 menggambarkan daerah penerimaan dan daerah penolakan H0 untuk kasus ukuran sampel besar. Apabila ukuran sampel besar, distribusi t konvergen pada distribusi z. Gambar 4.4. Daerah Penerimaan dan Penolakan H0 Apabila nilai t hitung sama dengan -2 maka H0 ditolak dengan tingkat kepercayaan 95%. Apabila nilai t hitung sama dengan +2 maka H0 juga ditolak dengan tingkat kepercayaan 95%. Pengujian ini disebut pengujian dua ekor (two tail) atau ada yang menyebut pengujian dua arah. Pengujian dua ekor ini berdasarkan pada H1, yaitu variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen . Dalam hal ini, pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen bisa positif atau negatif. Bila pengaruhnya negatif, seperti yang ditunjukkan dengan hasil estimasinya maka nilai t hitung akan negatif. Sebaliknya, apabila pengaruhnya positif maka nilai t hitungnya positif. Misalnya, nilai t hitung adalah 1, nilai satu jatuh pada daerah penerimaan H0. Oleh karena itu, H0 diterima. Perhatikan menerima H0, yaitu menerima hipotesis nilai beta sama dengan nol, artinya variabel independen tidak mempengaruhi variabel dependen. Dikatakan bahwa pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen tidak signifikan. Bila hasil nilai estimasi tidak terdeviasi cukup jauh dari nol maka disimpulkan bahwa nilai parameter yang diestimasi sama dengan nol. Dalam kondisi apa nilai t hitung akan cenderung jatuh pada daerah penolakan H0? Semakin jauh nilai terdeviasi dari nol dan semakin kecil deviasi standar estimasi beta, maka semakin besar nilai t dan semakin besar kemungkinan nilai t jatuh pada daerah penolakan. (Lihat formula transformasi t di atas). Semakin kecil deviasi standar estimasi beta, artinya semakin tinggi ketepatan (presisi) estimasi beta. Deviasi standar estimasi beta bergantung pada standar deviasi error. Kecilnya deviasi standar error regresi, mengindikasikan kemampuan model menjelaskan variasi variabel dependen. Apabila koefisien variabel-variabel dalam model signifikan, artinya variabel-variabel dalam model bisa menjelaskan variasi dependen variabel. Untuk menguji apakah sebuah model bisa menjelaskan variasi variabel dependen digunakan uji F. Uji F biasanya disebut uji model. Sebagai indikasi, apabila koefisien ada variabel independen yang signifikan (dengan menggunakan uji t), model tersebut dikatakan bisa menjelaskan variasi variabel dependen. Prosedur uji F dijelaskan pada bagian berikutnya pada modul ini. ILUSTRASI REGRESI Ilustrasi regresi ini menampilkan estimasi fungsi permintaan. Variabel dependen adalah permintaan produk x (penjualan produk x). Variabel independen adalah harga produk x, harga produk lain dan pendapatan konsumen. Diasumsikan bahwa bentuk fungsi permintaan adalah fungsi permintaan Cobb-Douglas. Fungsi permintaan Cobb-Douglas merupakan fungsi pangkat yang sulit diestimasi. Supaya lebih mudah diestimasi, fungsi pangkat perlu dijadikan fungsi linier, yaitu dengan mentransformasikan semua variabel dengan transformasi ln. Transformasi ln ini membawa implikasi yang diharapkan, yaitu nilai estimasi koefisien regresi dari variabel yang ditransformasikan dengan ln merupakan elastisitas dari masing-masing variabel independennya. Dan, nilai elastisitas-elastisitas tersebut tidak berubah untuk semua nilai permintaan. Jadi, fungsi Cobb-Douglas mengasumsikan bahwa nilai elastisitas harga, elastisitas silang dan elastisitas pendapatan adalah konstan untuk semua nilai permintaan. Tabel 2.3 menampilkan data permintaan produk x, harga produk x, harga produk lain dan pendapatan konsumen. Tabel 2.3. Data Fungsi Permintaan Nomor 1 5000 500 250 100 2 5800 650 280 200 3 6000 660 310 300 4 6600 770 330 350 5 7000 790 450 550 6 7300 810 480 650 7 7500 880 500 750 8 8000 890 550 800 9 8800 950 590 850 10 9900 980 650 900 Catatan: Data ini adalah data hipotetis : permintaan produk x (penjualan produk x) : harga produk x : harga produk y : pendapatan konsumen : ukuran sampel atau jumlah observasi (n = 10) adalah variabel dependen dan ketiga variabel lainnya adalah variabel independen atau predictors. Oleh karena diasumsikan model fungsi permintaan Cobb-Douglas (fungsi pangkat), model dilinierkan dengan mentransformasikan semua variabel, baik variabel dependen maupun variabel independen, dengan transformasi ln. Fungsi permintaan Cobb-Douglas adalah: Fungsi Cobb-Douglas dilinierkan menjadi:
 
About Dee Blogger Template by Ipietoon Blogger Template