Sabtu, 14 Desember 2013

Inisiasi 6 Ekonomi Manajerial


Materi Inisiasi 6 Andriyansah, 2013 Fakultas Ekonomi Universitas Terbuka Sumber: BMP Ekonomi Manajerial 4312 Produsen memaksimumkan keuntungan mereka, konsumen memaksimumkan utility mereka. Letakkan mereka dalam struktur pasar bersaing sempurna. Hasilnya, kesejahteraan mereka bisa mencapai pada tingkat tertinggi. Artinya, tidak ada alokasi sumber daya lain yang bisa mengunggulinya. Ini adalah esensi hukum kesejahteraan ekonomi yang pertama. Skenario ini adalah sistem perekonomian yang paling efisien. Artinya, dengan input tertentu perekonomian akan menghasilkan output yang maksimal. Dalam kondisi seperti ini tentu saja pemerintah tidak mempunyai pembenaran untuk melakukan intervensi. Pemerintah bisa melakukan intervensi apabila ada inefisiensi. Inefisiensi akan muncul apabila terjadi kegagalan pasar (market failures). Pasar tidak gagal apabila semua harga yang terbentuk bisa mengalokasikan sumber daya paling efisien. Kondisi ini terjadi apabila semua pasar, baik produk maupun faktor produksi, mempunyai struktur pasar bersaing sempurna REGULASI KARENA ALASAN POLITIK Ekonom selalu mengasumsikan pelaku ekonomi sebagai profit (utility) maximizer karena pelaku ekonomi memang berperilaku demikian. Konsumen, produsen dan regulator juga manusia, semuanya profit maximizer yang rasional. Teori Menangkap Regulator Produsen akan melobi untuk mempengaruhi regulator supaya bersedia menetapkan tarif. Oleh karena tarif menguntungkan produsen, produsen bisa “menangkap” regulator untuk mendapatkan proteksi berupa tarif. Argumen ini disebut capture theory. Capture theory mengatakan bahwa produsen (konsumen) bisa menangkap regulator untuk membuat regulasi yang sesuai dengan keinginan produsen (konsumen). Capture theory memberikan prediksi bahwa regulasi yang ada sesuai dengan keinginan pihak yang mempunyai pengaruh besar pada regulator. Siapa yang bisa menangkap regulator? Tentu saja pihak yang menangkap regulator adalah pihak (kelompok) yang bisa menaikkan utility regulator. Secara individual biasanya produsen atau konsumen tidak bisa mempengaruhi regulator. Namun, secara bersama (organisasi) mereka mampu mempengaruhi regulator. Jadi, mereka yang mampu meng-organisasikan kelompoknya, mereka yang mampu mempengaruhi regulator Negara yang sedang berkembang biasanya mengandalkan perolehan ekspornya dari sektor kebutuhan primer, yaitu bahan-bahan makanan dan bahan-bahan baku. Permintaan barang-barang ini mempunyai elastisitas pendapatan yang rendah (Engel’s law). Oleh karena itu, suatu negara tidak bisa mengandalkan produk-produk tersebut untuk menopang strategi pertumbuhannya. Dikatakan bahwa produk-produk pertanian tradisional tidak bisa menjadi engine of growth suatu negara. Upaya mengembangkan produk-produk pertanian akan membuat perekonomian “terperangkap” dalam pola proses produksi barang-barang primer/pertanian. Hal ini tentu saja akan mengurangi alokasi resources perekonomian ke sektor lainnya, misalnya sektor manufaktur yang mempunyai elastisitas pendapatannya tinggi. Perdagangan internasional akan mampu bertindak sebagai lokomotif pembangunan jika berbasis pada sektor yang mempunyai elastisitas pendapatan tinggi seperti manufaktur. 1. Argumen Upah di Negara Partner yang Murah Biasanya, untuk industri tertentu, negara yang sudah berkembang, misalnya A.S. khawatir terhadap masuknya barang-barang yang diproduksi dengan tenaga kerja dari negara lain yang murah. Argumen ini akan menjadi lebih ekstrim dengan tambahan argumen bahwa tingkat upah tinggi dari negara yang sudah maju akan konvergen dengan tingkat upah yang lebih rendah dari negara yang sedang berkembang. Ross Perot berkomentar tentang NAFTA: “ ...Mexican wages will come up to $ 7.5 an hour and our wages will come down to $ 7.5 an hour.” Oleh karena itu, kelompok yang merasa berpotensi dirugikan akan berusaha untuk mendapatkan proteksi berdasarkan argumen tersebut. Ada beberapa kesalahan dalam argumen tersebut. Pertama, tenaga kerja AS mempunyai tingkat gaji yang lebih tinggi karena produktivitasnya tinggi. Kedua, yang harus ditekankan adalah pola perdagangan disebabkan oleh keunggulan komparatif, bukan karena tingkat gaji ataupun keunggulan absolut, dan tingkat upah ditentukan oleh efisiensi atau produktivitas pekerja, bukan karena hambatan perdagangan. 2. Retaliasi Hambatan perdagangan, misalnya tarif, bisa muncul karena alasan retaliasi (balasan). Negara A mengenakan tarif terhadap produk tertentu dari negara B karena B mengenakan tarif terhadap produk dari A. Tarif war ini selain bisa memunculkan tarif, juga memberikan insentif bagi suatu negara untuk tidak memulai mengenakan tarif terhadap produk dari negara lain. Oleh karena itu, rule of the game dalam perdagangan internasional yang berpola tit-for-tat ini justru mampu mengeliminasi tarif. Dalam picking winner, pemerintah menentukan produk unggulan (the winner) dalam perekonomian, misalnya tekstil. Namun, yang menentukan the winner adalah pasar (harga), bukan pemerintah. Harga (pasar) akan mengarahkan sumber daya secara benar. Ingat bahwa harga mempunyai kemampuan untuk mengalokasikan sumber daya yang paling efisien. 3. Kebijakan yang Tidak Netral (Bias) Tarif dan NTBs adalah instrumen pemerintah untuk melakukan intervensi sebuah perekonomian. Dalam realita, tarif dan NTBs muncul karena alasan-alasan infant industry argument, rent seeking, kompetisi dengan tenaga kerja asing, dan retaliasi. Alasan-alasan tersebut tidak sesuai dengan argumen gains from trade seperti yang ditunjukkan oleh comparative advantage (keunggulan komparatif). Secara umum, tarif dan NTBs bias ke sektor atau produk tertentu. Akibatnya, sektor-sektor pilihan akan menyedot resources perekonomian yang terbatas. Oleh karena itu, tarif dan nontarif akan membuat pertumbuhan perekonomian menjadi timpang. Biasanya, untuk perekonomian sebuah negara agraris yang sedang berkembang akan cenderung mengandalkan sektor non-agraria sebagai lokomotif pertumbuhan karena permintaan akan komoditi agraria tidak elastis (Engel’s law). Hal ini akan memunculkan dilema, di negara agraris tersebut sektor agraria menjadi terbelakang. (Negara agraris adalah negara yang sebagian besar penduduknya bekerja di sektor agraria). Tarif untuk suatu barang biasanya mempunyai dampak negatif terhadap barang lainnya. Tarif untuk memberikan proteksi industri yang sedang turun kinerjanya karena adanya inefisiensi dari kompetisi internasional akan menolong mengurangi pengangguran di industri tersebut. Akan tetapi, di lain pihak, konsumen harus menanggung beban harga yang lebih tinggi. 4. Laissez Faire dan Keunggulan Komparatif Pada prinsipnya, intervensi perdagangan internasional tidak membuat perekonomian menjadi lebih baik. Barangkali hampir semua ekonom tidak mendukung adanya hambatan perdagangan internasional baik tarif maupun NTBs. Oleh karena itu, perekonomian dunia diskenariokan pada tahun 2020 menjadi bebas, bebas dari hambatan perdagangan internasional. (Angka 2020 diambil dari istilah kedokteran yang menggambarkan penglihatan yang jelas.) Banyak argumen bahwa negara yang sedang berkembang akan “tergilas” oleh perdagangan internasional. Argumen ini adalah argumen short sighted (jangka pendek). Apabila tarif dihapus, sebagian produsen domestik akan gulung tikar. Mereka yang gulung tikar adalah produsen yang tidak efisien dibanding produsen sejenis yang ada di dunia. Setelah gulung tikar, mereka akan berupaya pindah ke sektor lain yang lebih efisien dan sesuai dengan keunggulan komparatif mereka. Mereka akan beroperasi tanpa harus diintervensi atau dilindungi. Jadi, harga internasional menunjukkan kepada sebagian produsen yang salah memilih sektor dan mengarahkan mereka untuk memilih ke sektor yang lebih cocok. Argumen yang harus diingat bahwa semua produsen (negara) mempunyai keunggulan komparatif. Perhatikan bahwa seorang konglomerat pasti bisa mencuci bajunya sendiri dengan bersih dan rapi, lebih bersih dari hasil cucian pembantunya. Namun, konglomerat tersebut tetap menyewa pembantu untuk mencuci pakaiannya. Tenaga kerja Amerika Serikat bisa menjahit lebih bagus dibanding tenaga kerja Cina. Namun, perusahaan lebih menguntungkan merelokasi aktivitas penjahitan ke Cina. Cina mempunyai keunggulan komparatif dalam menjahit terhadap Amerika Serikat.

Inisiasi 5 Ekonomi Manajerial


Materi Inisiasi 5 Andriyansah, 2013 Fakultas Ekonomi Universitas Terbuka Sumber: BMP Ekonomi Manajerial 4312 Pricing tidak relevan untuk perusahaan dalam struktur pasar bersaing sempurna. Perusahaan dalam struktur pasar bersaing sempurna bertindak sebagai price taker. Pricing menjadi relevan bagi perusahaan dalam struktur pasar bersaing tidak sempurna. Perusahaan dalam pasar bersaing tidak sempurna menghadapi kurva permintaan yang tidak datar, tetapi miring negatif. Secara umum, tampilan kurva permintaan pasar bersaing tidak sempurna adalah: misalnya: Perusahaan yang mengoptimalkan keuntungannya akan memproduksi hingga produk yang terakhir memenuhi persyaratan ongkos marjinal sama dengan pendapatan marjinal. Apabila ongkos marjinal kurang dari pendapatan marjinal, perusahaan bisa meningkatkan keuntungan dengan menambah produk. Sebaliknya, apabila ongkos marjinal sudah melebihi pendapatan marjinal, perusahaan bisa meningkatkan keuntungan dengan mengurangi produk. Pricing yang optimal harus memenuhi syarat: di mana e : elastisitas harga produk Nilai elastisitas adalah negatif. Jadi, harga yang optimal adalah: disebut mark-up Pricing satu harga untuk sejumlah produk tertentu disebut block pricing. Gambar 6.10. Block Pricing Harga blok (block pricing) membuat konsumen membuat keputusan membeli satu blok produk atau tidak sama sekali. Asalkan konsumen menilai bahwa satu blok barang (8) memberikan surplus konsumen sebesar 48 dan harga satu blok produk tidak lebih dari 48, konsumen tersebut akan membeli paket tersebut. Block Pricing Produk tertentu mempunyai MC yang amat rendah, seperti permen. MC permen bisa dianggap kecil sekali (0). Oleh karena itu, produsen permen biasanya menjual dengan block pricing. Peak-Load Pricing Beberapa produk mempunyai permintaan yang bervariasi menurut waktu. Jasa kereta api pada pagi dan sore hari meningkat besar dibanding waktu-waktu lainnya. Pada saat permintaan dalam kondisi peak, kapasitas jasa kereta api diasumsikan tidak bisa ditingkatkan. Pada saat permintaan tinggi, perusahaan jasa kereta api bisa menaikkan harga tiketnya. Sebaliknya, pada saat permintaan rendah, perusahaan jasa kereta api bisa menurunkan harga tiketnya. Pricing ini disebut peak load pricing.

Inisiasi 3 Ekonomi Manajerial


Materi Inisiasi 4 Andriyansah, 2013 Fakultas Ekonomi Universitas Terbuka Sumber: BMP 4312 struktur biaya sebuah perusahaan sumbu tegak menunjukkan biaya dan sumbu datar menunjukkan jumlah barang yang diproduksi/dijual. Law of diminishing returns membuat biaya marjinal (MC) naik semakin cepat. MC memotong biaya rata-rata (AC) pada AC minimum. MC memotong biaya rata-rata variabel (AVC) pada AVC minimum. Gambar 5.1. Struktur Biaya struktur biaya sebuah perusahaan sumbu tegak menunjukkan biaya dan sumbu datar menunjukkan jumlah barang yang diproduksi/dijual. Law of diminishing returns membuat biaya marjinal (MC) naik semakin cepat. MC memotong biaya rata-rata (AC) pada AC minimum. MC memotong biaya rata-rata variabel (AVC) pada AVC minimum. Gambar 5.1. Struktur Biaya Produsen mempunyai struktur biaya seperti pada Gambar 5.1 menghadapi kurva permintaan seperti pada Gambar 5.2. Berapa jumlah produksi yang optimal bagi produsen? Jumlah produksi yang optimal artinya jumlah produksi yang memaksimumkan keuntungan atau meminimumkan kerugian. Keuntungan produsen adalah: : keuntungan : pendapatan (revenue) : biaya (costs) q : kuantitas (quantity) Perhatikan bahwa keuntungan, pendapatan dan biaya semuanya fungsi dari output. Kondisi keuntungan optimal adalah turunan pertama keuntungan terhadap output sama dengan nol. Jadi . Secara intuisi, apabila harga pasar relatif tinggi sehingga biaya rata-rata lebih kecil dari harga produknya, produsen menikmati keuntungan positif. Keuntungan ini disebut keuntungan di atas normal (super normal). Apabila harga pasar turun sehingga biaya rata-rata sama dengan harga, keuntungan produsen sama dengan nol (keuntungan normal atau normal profit). Apabila harga pasar turun lagi sehingga biaya rata-rata kurang di bawah harga produk, produsen mengalami kerugian atau keuntungan di bawah nol (sub-normal profit). Tiga kategori keuntungan bisa diilustrasikan dengan grafik. 1. Perusahaan Menikmati Keuntungan di atas Normal Gambar 5.5. Perusahaan Menikmati Keuntungan di Atas Normal Gambar 5.5 menggambarkan produsen mempunyai struktur biaya standar dan menghadapi kurva permintaan pasar horizontal. Produsen yang mengoptimalkan keuntungannya memenuhi kondisi MC = MR. Output optimalnya adalah 100. Dengan output 100, biaya rata-rata produk adalah 8. Tentu saja harganya 10. Produsen menikmati keuntungan sebesar 200. Ini adalah keuntungan di atas normal (super normal profit). Keuntungan di atas normal tentu saja mengundang produsen-produsen lainnya (entries). Persediaan (supply) output di pasar meningkat dan menurunkan harga produk. Produsen baru akan tetap masuk selama masih ada super normal profit. Atau, produsen baru akan tidak mempunyai insentif untuk masuk bila super normal profit sama dengan nol. Keuntungan sama dengan nol ini disebut keuntungan normal (normal profit). Jadi, apabila harga di atas 7 (harga yang membuat keuntungan di atas normal), harga akan turun ke 7. 2. Perusahaan Menikmati Keuntungan Normal Keuntungan normal terjadi bila harga sama dengan biaya produksi rata-rata. Gambar 5.6 menunjukkan keuntungan normal. Produsen memenuhi kondisi optimal MC = MR. Output optimal adalah 90. Harga sama dengan biaya rata-rata, yaitu 7. Keuntungan produsen adalah nol (normal profit). Gambar 5.6. Perusahaan Menikmati Keuntungan Normal Perusahaan Menikmati Keuntungan di Bawah Normal (Subnormal) Misalnya, penurunan permintaan pasar membuat harga turun hingga sama dengan 5. Produsen mengoptimalkan keuntungannya dengan memenuhi MC = MR dan memproduksi sebanyak 80. Pada saat output sama dengan 80, biaya rata-ratanya adalah 8. Produsen menderita kerugian 240 (3 80). Kerugian (keuntungan negatif) disebut keuntungan di bawah normal (sub-normal profit).

Inisiasi 4 Ekonomi Manajerial


Materi Inisiasi 4 Andriyansah, 2013 Fakultas Ekonomi Universitas Terbuka Sumber: BMP Ekonomi Manajerial 4312 Regresi linier bertujuan untuk menjelaskan pengaruh sejumlah variabel bebas terhadap variabel tidak bebas. Model regresi yang merupakan fungsi linier sejumlah variabel berguna untuk menjelaskan variasi dependen variabel. Model regresi yang ideal adalah model dengan jumlah variabel sedikit, namun bisa menjelaskan sebagian besar variasi dependen variabel. Jadi, metode dalam mengestimasi model regresi, tujuannya adalah memilih koefisien variabel independen dalam model yang meminimumkan variasi error. Metode ini disebut ordinary least squares (OLS), yaitu metode yang meminimumkan jumlah kuadrat error. Jumlah kuadrat error adalah ukuran variasi error. Error adalah selisih nilai variabel dependen yang sesungguhnya dengan nilai prediksi model regresi. 1. Pembentukan Hipotesis Fokus pengujian adalah hubungan kausalitas. Bentuk hubungan kausalitas adalah sebuah variabel independen mempengaruhi variabel dependen. Bentuk hubungan yang lebih informatif adalah apabila nilai variabel independen berubah satu persen, variabel dependen berubah berapa persen. Apabila variabel independen harga produk tidak mempengaruhi permintaan produk, pengaruh harga terhadap permintaan produk adalah nol. Dalam memilih variabel bebas tentu saja yang diharapkan adalah bahwa variabel bebas mempengaruhi variabel dependen. Hal yang tidak diharapkan adalah variabel independen tidak mempengaruhi variabel dependen. Hipotesis variabel independen tidak mempengaruhi variabel dependen disebut H0 (hipotesis nol). Angka nol merujuk bahwa pengaruh independen terhadap dependen variabel adalah nol (tidak berpengaruh). Sedangkan hipotesis variabel independen mempengaruhi dependen variabel disebut H1 (hipotesis 1 atau hipotesis alternatif). Kata alternatif merujuk pada hipotesis bahwa pengaruh independen variabel berpengaruh pada dependen variabel. Oleh karena itu, bentuk dari hipotesis adalah sebagai berikut: di mana menunjukkan pengaruh variabel sebuah variabel independen terhadap variabel dependen. Dalam pengujian hipotesis tentu saja yang diharapkan adalah menolak H0 atau menerima H1 (baca hipotesis alternatif untuk mengingatkan hipotesis alternatif dari H0). Menolak H0 atau menerima H1 artinya data sesuai dengan hipotesis alternatif yang dibentuk berdasarkan teori. Lebih dari itu, nilai beta yang tidak sama dengan nol mengkuantifikasi pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Apabila nilai variabel ditransformasikan dengan ln, koefisien masing-masing variabel merupakan elastisitas variabel dependen variabel terhadap perubahan masing-masing variabel independen. 2. Pengujian Hipotesis Untuk menentukan penerimaan atau penolakan sebuah H0 memerlukan uji t. Uji t sering disebut sebagai uji sebuah koefisien karena menguji masing-masing koefisien variabel independen dalam model regresi. Dalam uji t, koefisien (misalnya ) diasumsikan menyebar normal dengan rata-rata 0, sesuai dengan H0. Kemudian, nilai estimasi beta tersebut ditransformasi normal baku dan nilainya disebut t hitung. Variabel t hitung ini menyebar secara t. Apabila t hitung berada jauh dari rata-ratanya (0), maka nilai estimasinya tidak sama dengan nol, atau H0 ditolak. Apabila nilai t hitung berada di sekitar nol maka nilai estimasinya sama dengan nol. Oleh karena itu, daerah di sekitar nol pada distribusi t disebut daerah penerimaan H0, sedangkan daerah distribusi t yang jauh dari nol disebut daerah penerimaan H0. Gambar 4.3 menggambarkan daerah penerimaan dan daerah penolakan H0 untuk kasus ukuran sampel besar. Apabila ukuran sampel besar, distribusi t konvergen pada distribusi z. Gambar 4.4. Daerah Penerimaan dan Penolakan H0 Apabila nilai t hitung sama dengan -2 maka H0 ditolak dengan tingkat kepercayaan 95%. Apabila nilai t hitung sama dengan +2 maka H0 juga ditolak dengan tingkat kepercayaan 95%. Pengujian ini disebut pengujian dua ekor (two tail) atau ada yang menyebut pengujian dua arah. Pengujian dua ekor ini berdasarkan pada H1, yaitu variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen . Dalam hal ini, pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen bisa positif atau negatif. Bila pengaruhnya negatif, seperti yang ditunjukkan dengan hasil estimasinya maka nilai t hitung akan negatif. Sebaliknya, apabila pengaruhnya positif maka nilai t hitungnya positif. Misalnya, nilai t hitung adalah 1, nilai satu jatuh pada daerah penerimaan H0. Oleh karena itu, H0 diterima. Perhatikan menerima H0, yaitu menerima hipotesis nilai beta sama dengan nol, artinya variabel independen tidak mempengaruhi variabel dependen. Dikatakan bahwa pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen tidak signifikan. Bila hasil nilai estimasi tidak terdeviasi cukup jauh dari nol maka disimpulkan bahwa nilai parameter yang diestimasi sama dengan nol. Dalam kondisi apa nilai t hitung akan cenderung jatuh pada daerah penolakan H0? Semakin jauh nilai terdeviasi dari nol dan semakin kecil deviasi standar estimasi beta, maka semakin besar nilai t dan semakin besar kemungkinan nilai t jatuh pada daerah penolakan. (Lihat formula transformasi t di atas). Semakin kecil deviasi standar estimasi beta, artinya semakin tinggi ketepatan (presisi) estimasi beta. Deviasi standar estimasi beta bergantung pada standar deviasi error. Kecilnya deviasi standar error regresi, mengindikasikan kemampuan model menjelaskan variasi variabel dependen. Apabila koefisien variabel-variabel dalam model signifikan, artinya variabel-variabel dalam model bisa menjelaskan variasi dependen variabel. Untuk menguji apakah sebuah model bisa menjelaskan variasi variabel dependen digunakan uji F. Uji F biasanya disebut uji model. Sebagai indikasi, apabila koefisien ada variabel independen yang signifikan (dengan menggunakan uji t), model tersebut dikatakan bisa menjelaskan variasi variabel dependen. Prosedur uji F dijelaskan pada bagian berikutnya pada modul ini. ILUSTRASI REGRESI Ilustrasi regresi ini menampilkan estimasi fungsi permintaan. Variabel dependen adalah permintaan produk x (penjualan produk x). Variabel independen adalah harga produk x, harga produk lain dan pendapatan konsumen. Diasumsikan bahwa bentuk fungsi permintaan adalah fungsi permintaan Cobb-Douglas. Fungsi permintaan Cobb-Douglas merupakan fungsi pangkat yang sulit diestimasi. Supaya lebih mudah diestimasi, fungsi pangkat perlu dijadikan fungsi linier, yaitu dengan mentransformasikan semua variabel dengan transformasi ln. Transformasi ln ini membawa implikasi yang diharapkan, yaitu nilai estimasi koefisien regresi dari variabel yang ditransformasikan dengan ln merupakan elastisitas dari masing-masing variabel independennya. Dan, nilai elastisitas-elastisitas tersebut tidak berubah untuk semua nilai permintaan. Jadi, fungsi Cobb-Douglas mengasumsikan bahwa nilai elastisitas harga, elastisitas silang dan elastisitas pendapatan adalah konstan untuk semua nilai permintaan. Tabel 2.3 menampilkan data permintaan produk x, harga produk x, harga produk lain dan pendapatan konsumen. Tabel 2.3. Data Fungsi Permintaan Nomor 1 5000 500 250 100 2 5800 650 280 200 3 6000 660 310 300 4 6600 770 330 350 5 7000 790 450 550 6 7300 810 480 650 7 7500 880 500 750 8 8000 890 550 800 9 8800 950 590 850 10 9900 980 650 900 Catatan: Data ini adalah data hipotetis : permintaan produk x (penjualan produk x) : harga produk x : harga produk y : pendapatan konsumen : ukuran sampel atau jumlah observasi (n = 10) adalah variabel dependen dan ketiga variabel lainnya adalah variabel independen atau predictors. Oleh karena diasumsikan model fungsi permintaan Cobb-Douglas (fungsi pangkat), model dilinierkan dengan mentransformasikan semua variabel, baik variabel dependen maupun variabel independen, dengan transformasi ln. Fungsi permintaan Cobb-Douglas adalah: Fungsi Cobb-Douglas dilinierkan menjadi:

Materi Inisiasi 2 Ekonomi Manajerial 4312


Materi Inisiasi 2 Andriyansah, 2013 Fakultas Ekonomi Universitas Terbuka Sumber: BMP Ekonomi Manajerial 4312 1. Makan Tempe A makan tempe. A yang sedang lapar akan menghabiskan berapa buah tempe? Tempe pertama memberikan kepuasan (utiliti) kepada A sebesar 7, lihat Gambar 2.1. Gambar 2.1 menggambarkan fungsi utiliti A. Tempe kedua memberikan tambahan utiliti 2 kepada A. Tempe ketiga memberikan utiliti 1 kepada A. Stop! A tidak mengambil tempe keempat. Gambar 2.1 Fungsi Utiliti Konsumen Mengapa A tidak mengambil tempe keempat? Perhatikan gambar fungsi utiliti A. Tempe keempat akan memberikan tambahan kepuasan relatif amat kecil dibanding tempe ke tiga, apalagi tempe pertama. Misalkan, harga sebuah tempe adalah Rp1.000,00. Misalkan, A menilai pengeluaran Rp1.000,00 pertama menyebabkan utiliti-nya turun 0,25 saja. Tentu saja A amat senang menukar uang seribu pertamanya dengan tempe pertamanya yang memberi tambahan utiliti 7. Kemudian, A menilai pengeluaran 1000 kedua menyebabkan utiliti-nya turun 0,5. Tempe kedua memberikan tambahan utiliti 2. A dengan senang menukar uang seribu keduanya dengan tempe kedua. Apabila untuk kehilangan 1.000 ketiganya, utiliti A turun 1. Dan, tempe ketiga memberikan kepada A tambahan utiliti sebesar 1 juga. A indifferent (tidak berbeda) terhadap uang 1.000 ketiganya dan tempe ketiganya. Bagaimana dengan tempe keempat. Tempe keempat memberikan utiliti kepada A sebesar 0,1. Untuk mendapatkan tempe keempat tersebut, A harus mengeluarkan uang 1.000 keempatnya. Misalnya, utiliti A akan turun 2 apabila kehilangan seribu keempatnya, A tidak bersedia menukar uang 1.000 keempatnya dengan tempe keempat. Jadi, A membeli hingga tempe ke tiga. Dikatakan bahwa permintaan individual A terhadap tempe pada harga 1000 adalah 3 buah. Perhatikan bahwa penurunan marjinal utiliti setiap penurunan kekayaan sebesar Rp1000,00 semakin membesar. Argumen ini adalah interpretasi lain dari law of diminihing return dalam utiliti (hukum pertambahan yang berkurang). Awalnya A tidak mempunyai uang. Seribu pertama akan memberikan utiliti 2. Seribu kedua memberikan utiliti 1. Seribu ketiga memberikan utiliti 0,5. Marjinal utiliti seribu keempat adalah 0,25. Law of Diminishing Returns Pertambahan utiliti karena pertambahan konsumsi sebuah tempe disebut marjinal utiliti (MU) tempe. Marjinal utiliti tempe pertama lebih besar dibanding dengan marginal utiliti tempe kedua. Marginal utiliti tempe kedua lebih besar dibanding dengan marjinal utiliti ketiga dan seterusnya. Fenomena penurunan marjinal utiliti ini adalah salah satu bentuk dari hukum pertambahan yang berkurang (law of diminishing returns) dalam utiliti Kondisi Optimal Perhatikan bahwa A berhenti pada konsumsi ketiga, yaitu pada saat marjinal utiliti tempe ketiga sama dengan marjinal utiliti uang 1.000 ketiga A, yaitu sama-sama satu. A mengoptimalkan konsumsinya dengan membeli tiga tempe. MU tempe > MU 1.000 rupiah, tambah tempe. MU tempe < MU 1.000 rupiah, kurangi tempe. MU tempe = MU 1.000 rupiah, pas. A akan mencapai tingkat konsumsi tempe yang optimal bila tempe terakhir yang dibeli memberikan utiliti yang sama dengan tingkat utiliti yang diberikan oleh uang sebesar harga tempe terakhir tersebut atau kondisi optimal A adalah nilai marjinal utiliti (value marginal utility, VMU) tempe yang dibeli terakhir sama dengan harga tempe. Ingat dalam membandingkan dua hal harus bersifat apple-to-apple, jadi satuan marjinal utiliti tempe harus sama dengan satuan harga tempe. Untuk membandingkan dua barang yang berbeda kita mempunyai alat pembanding (alat tukar) yang universal, yaitu uang. Asmuni, pelawak Srimulat, mengatakan bahwa “Keris ini asalnya dari ular. Teori Alokasi Harga Perhatikan berapa banyak A mengonsumsi tempe. Selain tingkat kesukaan A terhadap tempe yang tercermin dalam fungsi utiliti-nya, faktor harga memegang peranan penting. Apabila harga rendah, A akan membeli tempe lebih banyak. Sebaliknya, apabila harga tempe naik, A akan membeli tempe lebih sedikit. Cerita simpel ini adalah salah satu dari fenomena dari apa yang disebut teori alokasi harga (price allocation theory). Konsumsi dan Eksternalitas Dalam ilmu ekonomi menganut prinsip tidak ada sesuatu yang gratis (there is no such a free lunch). Harga harus benar. Ini adalah esensi ilmu ekonomi. A merokok. B yang tidak merokok terpaksa menghirup asap rokok yang diakibatkan A mengonsumsi rokok. B merasa tidak nyaman. Utiliti B turun. Prinsip tidak ada sesuatu yang gratis mengharuskan A untuk memberikan kompensasi kepada B sehingga utiliti B kembali pada posisi semula. Upaya pemerintah DKI Jakarta untuk menghukum perokok yang mengeluarkan eksternalitas negatif mendapatkan pembenaran.

Materi Inisiasi 1 Ekonomi Manajerial 4312


Andriyansah, 2013 Fakultas Ekonomi Universitas Terbuka Sumber: BMP Ekonomi Manajerial 4312 Untuk meningkatkan aliran keuntungan dimasa datang, perusahaan dapat menambah modal dengan cara menarik dana dengan menerbitkan utang (debt). Aliran keuntungan perusahaan sekarang menjadi milik pemegang saham dan pemegang surat utang (bond holders). Dengan adanya surat utang maka nilai perusahaan yang baru terdiri dari nilai saham dan nilai utang. : nilai perusahaan : nilai ekuiti (saham) : nilai utang Nilai ekuiti sama dengan nilai sekarang aliran kas yang dihasilkan perusahaan untuk pemegang saham. Apabila perusahaan mampu memberikan harapan (ekspektasi) keuntungan secara berkesinambungan maka nilai ekuiti akan lebih besar dibanding dana yang diinvestasikan oleh pemegang saham. Nilai ekuiti ini tercermin pada harga ekuiti (saham) yang tinggi. Sebaliknya, nilai ekuiti akan lebih rendah dari dana awal yang diinvestasikan oleh pemegang saham apabila diperkirakan perusahaan akan menderita kerugian untuk waktu yang panjang dimasa datang. Harga saham perusahaan akan turun bila diperkirakan akan menderita kerugian dimasa datang. Untuk kasus memaksimumkan keuntungan, perusahaan memaksimumkan pendapatan dengan kendala biaya. Nilai pendapatan bergantung pada jumlah produk yang terjual. Biaya juga bergantung pada jumlah produk yang diproduksi. Diasumsikan bahwa jumlah produk yang terjual sama dengan jumlah produk yang diproduksi. Jadi, pendapatan dan biaya merupakan fungsi jumlah produk. Fungsi keuntungan di atas dapat ditampilkan sebagai berikut: Permasalahan bagi perusahaan adalah berapa jumlah produk (q) yang membuat keuntungan maksimum. Teknik maksimalisasi matematika mengarahkan bahwa keuntungan akan maksimum pada nilai produk (q) di mana turunan fungsi keuntungan sama dengan nol. di mana: : turunan pertama pendapatan terhadap jumlah produk atau pendapatan marjinal (marginal revenue) : turunan pertama keuntungan terhadap jumlah produk atau keuntungan marjinal (marginal profit) : turunan pertama biaya terhadap jumlah produk atau biaya marginal (marginal cost). Keuntungan maksimal terjadi apabila , pendapatan marjinal sama dengan biaya marjinal. Pendapatan marjinal adalah tambahan pendapatan apabila perusahaan menjual satu produk lagi. Apabila harga diasumsikan konstan, tidak bergantung pada jumlah penjualan produk, pendapatan marjinal sama dengan harga produk. Fungsi pendapatan adalah: p : harga produk q : jumlah produk yang dijual atau permintaan produk Apabila harga produk sama dengan 2, fungsi pendapatan sama dengan: . Fungsi pendapatan ini adalah fungsi linier. Artinya, kenaikan pendapatan sebanding dengan kenaikan jumlah produk terjual. Bentuk fungsi linier adalah: Gambar 1.1. Fungsi Pendapatan Linier Turunan pertama fungsi pendapatan adalah .Turunan pertama fungsi pendapatan merupakan kemiringan (gradien/ slope/tangen) fungsi pendapatan tersebut. Kemiringan fungsi pendapatan tersebut adalah 2 (2 dibagi 1), lihat Gambar 1.1. Apabila perusahaan menambah penjualan satu produk, keuntungan perusahaan bertambah 2 (satuan diabaikan). Untuk semua tingkat produk, kemiringan fungsi pendapatan sama dengan dua. Keuntungan marjinal adalah tambahan keuntungan apabila perusahaan menjual tambahan satu produk lagi. Keuntungan marjinal pada awalnya tinggi (jumlah produk relatif sedikit) yang tampak pada lereng fungsi keuntungan yang relatif tegak, kemudian semakin mendatar seiring bertambahnya penjualan produk. Setelah mencapai batas maksimum akan menurun. Contoh bentuk fungsi keuntungan ditampilkan dalam Gambar 1.2. Gambar 1.2 Fungsi Keuntungan Marjinal Biaya marjinal adalah tambahan biaya apabila perusahaan memproduksi tambahan satu produk lagi. Biaya marjinal pada awalnya rendah, kemudian menjadi semakin tinggi sejalan dengan bertambahnya jumlah produksi. Gambar 1.3 menampilkan biaya marjinal.

DISKUSI DAN TUGAS MRP


FORUM DISKUSI 1 dari Meirani - Senin, 2 September 2013, 07:35 Saudara mahasiswa, Anda sudah mempelajari mengenai manajemen rantai pasokan, bukan...? Nah sekarang, mari kita diskusi bersama mengenai hal itu. Pertanyaan saya, coba Anda sebutkan contoh penerapan manajemen rantai pasokan pada satu jenis industri, boleh untuk perusahaan manufaktur ataupun jasa. Contohnya boleh apa saja, silahkan agar kita dapat berbagi informasi kepada teman-teman lain contoh manajemen rantai pasokan. FORUM DISKUSI 2 dari Meirani - Selasa, 10 September 2013, 07:49 Teman-teman, coba perhatikan ilustrasi berikut. PT. A menjual produk XX melalui iklan di televisi. Bagi orang yang ingin membeli produk XX tersebut, pembeli dapat menelepon ke nomor telepon tertentu, kemudian barang langsung dikirim ke alamat pembeli. PT. B menjual produk YY melalui beberapa saluran. Pertama adalah melalui distributor yang dilanjutkan dengan pengecer, kemudian ke pembeli. Sekarang, coba berikan pendapat Anda, termasuk dalam penjadwalan penyerahan apakah PT. A dan PT. B tersebut. Jelaskan jawaban Anda. FORUM DISKUSI 3 dari Meirani - Senin, 16 September 2013, 15:17 Teman-teman semua.... Setelah Anda mempelajari materi yang sudah saya sampaikan, sekarang coba kita diskusikan materi ini ya...... Permintaan handphone dalam tiga tahun terakhir ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin peduli dengan kebutuhan berkomunikasi secara cepat dan efisien sekaligus sudah menjadi gaya hidup. Permintaan handphone ini termasuk dalam pola permintaan apakah..? Jelaskan jawaban Anda! Tugas 1 Coba Anda buat rangkuman mengenai teknik-teknik peramalan yang Anda ketahui. Jelaskan masing-masing teknik secara singkat saja DISKUSI 4 dari Meirani - Senin, 23 September 2013, 08:08 Bagaimana Saudara mahasiswa..? Anda sudah paham mengenai persediaan model EOQ...? Sekarang coba berikan pendapat Anda mengenai kelebihan dan kekurangan metode EOQ Tugas 2 Teman-teman, coba Anda jelaskan kaitan antara strategi rantai pasok dengan strategi kompetitif perusahaan ! Boleh singkat saja ya.. DISKUSI 5 dari Meirani - Senin, 30 September 2013, 08:33 Coba Anda diskusikan, apakah perlu diantara anggota rantai pasok mengembangkan keterbukaan informasi..? jelaskan jawaban Anda DISKUSI VI dari Meirani - Selasa, 8 Oktober 2013, 10:33 TEman-teman, coba Anda saling berdiskusi mengenai satu permasalahan mengenai lead time berikut ini. Jika suatu perusahaan menekankan pada biaya, artinya dalam memproduksi termasuk dalam aliran rantai pasok selalu menekankan pada efisiensi biaya sedangkan respon cepat terhadap konsumen memerlukan biaya tinggi, bagaimana menurut pendapat Anda kedua hal tersebut bisa disatukan..? Tugas 3 Coba Anda jelaskan menurut pendapat Anda, apa keuntungan penetapan tingkat yang optimal bagi perusahaan dan apa kerugiannya apabila usaha itu tidak tercapai. FORUM DISKUSI 7 dari Meirani - Sabtu, 12 Oktober 2013, 07:41 Pada diskusi kita kali ini, saya akan buka mimbar bebas, silahkan mengajukan pertanyaan dan saling menambbahkan
 
About Dee Blogger Template by Ipietoon Blogger Template